Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sosiolinguistik: Antara Gender, Budaya dan Gaya Berbahasa

Sosiolinguistik terdiri dari dua unsur kata yaitu sosio dan linguistik. Linguistik yaitu ilmu yg mendalami bahasa terutama unsur-unsur bahasa (ucapan, kata, kalimat) dan relasi antara unsur tersebut, tergolong pembentukan unsur tersebut. Sedangkan kata sosio searti dengan kata sosial yaitu yg berafiliasi dengan masyarakat. Jadi sosiolinguistik ialah kajian mengenai bahasa yg dikaitkan dengan keadaan kemasyarakatan (Sumarsono. 2013)

Dalam mengulas sosiolinguistik tidak luput dengan 3 sudut pembahasan yaitu a) bahasa, b) budaya, dan c) gender. 3 sudut tersebut merupakan inti dari topik pembahasan makalah ini. Berikut definisi dari 3 sudut tersebut.

a.         Pengertian Bahasa

Bahasa merupakan sistem lambang bunyi yg arbitrer, yg dipakai oleh anak buah sebuah masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri (KBBI.2013). Bahasa yg baik berkembang berdasarkan sebuah sistem, yaitu seperangkat aturan yg dipatuhi oleh pemakainya. Bahasa sendiri bertujuan sebagai sarana komunikasi dan sebagai sarana integrasi dan adaptasi,

b.         Pengertian Gender

Gender merupakan Kata “Gender” bersumber dari bahasa inggris yg berarti tipe kelamin, dan dengan cara umum arti gender merupakan perbedaan yg tampak antara laki-laki dan perempuan jika dilihat dari kualitas dan tingkah laku (Wikipedia.com). Gender berafiliasi dengan persepsi dan pemikiran dan perbuatan yg diinginkan sebagai perempuan dan laki-laki yg dibentuk masyarakat, bukan sebab perbedaan biologis (WHO. 1998).

c.         Pengertian Budaya

Budaya alias kebudayaan bersumber dari bahasa Sanskerta  yaitu buddhayah, yg merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi alias akal) diartikan sebagai hal-hal yg berkaitan dengan budi dan nalar manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yg bersumber dari kata Latin Colere, yaitu mengolah alias mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah alias bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia (Wikipedia.com).

Budaya merupakan sebuah tutorial nasib yg berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang-orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari tidak sedikit unsur yg rumit, tergolong sistem agama dan politik, budaya istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan tahap tidak terpisahkan dari diri insan jadi tidak sedikit orang-orang cenderung menganggapnya diwariskan dengan cara genetis.

Bahasa, gender dan budaya merupakan sebuah faktor yg sangat berkaitan dalam pemakaian komunikasi sehari-hari, dari ketiga sudut tersebut penulis mencoba meneliti keterkaitan yg menjadikan berbagai perdaan dalam komunikasi warga desa Mejosari kota Malang.

Penelitian ini memakai teori penelitian etnografi kualitatif. Penelitian etnografi merupakan salah satu pendekatan penelitian kualitatif. Penelitian etnografi dalam bidang sosiologi dan antropologi. Penelitian ini sempat dikerjakan oleh peneliti yg bernama Jonathan Kozol, dirinya melakukan penelitian dalam rangka melukiskan cita-cita dan usaha warga kulit hitam komunitas yg miskin dan terpinggiran pada kawasan Bronx, New York.

Penelitian kualitatif sangat tidak sedikit dipakai dalam penelitian lingkungan pendidikan/sekolah. Menurut Hubberman dan Miles semacam yg dikutip Lodico, spaulding dan voegtle, etnografi ini bersumber dari dua kata yunani yakni ethos dan graphos. Artinya penelitian mengenai kelompok budaya. Sedangkan menurut Schensul dan Clompte penelitian etnografi merupakan teknik penelitian yg bertujuan untuk menemukan ilmu pengetahuan yg tersedia / terkandung di dalam sebuah budaya / komunitas tertentu.

Hasil penelitian bahasa komunikasi yg dipakai masyarakat desa Merjosari Kota Malang yaitu.

1.         Perbedaan komunikasi warga karna perbedaan gender

Komunikasi warga desa berikut berbeda-beda sebab perbedaan gender, gender menjadi faktor yg sangat berpengaruh dalam komunikasi yg dipakai. Contoh antara gender laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan dalam tutorial menuturkan. Laki laki cendrung lebih keras dan kasar dalam membicarakan dibandingkan perempuan yg membicarakan bahasa yg lebih lembut dan sopan..

Rina     : Bagaimana Kabar Sampean ?

Trisno  : Aku baik baik saja, kmu gmn ?

Rina     : Saya Alhamdulillah sehat.

Dari contoh diatas, Rina lebih memakai bahasa lembut dan menghargai lawan bicaranya dan Trisno lebih berkata kasar semacam tidak sedikit laki laki di dunia ini.

2.         Perbedaan komunikasi warga karna perbedaan budaya.

Komunikasi warga desa tersebut berbeda-beda karna budaya yg bermacam-macam. Warga disana terdiri dari berbagai warga dari lain kota, desa, daerah, dan suku. Contoh saat ada seorang pria asal Situbondo yg tidak jarang memakai bahasa Indonesia yg cenderung memakai logat kemaduraannya yg tidak jarang luar biasa menarik perkataan, contoh “sayya sukka barang ini…” dan contoh lagi pria orisinil malang yg memakai bahasa Indonesia yg memakai logat bahasa jawa yg sangat kental.

Contoh dari perbincangan berikut.

Imam (Asal Situbondo)          : Kamu dari mana…?

Wati (Asal Malang)                : Aku dari (ndari) kost tmen.

Imam                                       : Di mana… kost tmenmu.. ?

Wati                                        : di Dinoyo (ndinoyo) mam.

Tak hanya dalam berbagai percakapan, contoh kelekatan logat bahasa dan pengungkapan bunyi bahasa juga terjadi saat warga merjosari asal jawa menyimak Al Quran, semacam contoh berikut.

Seseorang menyimak Alquran dan menyimak huruf “د”, dirinya menyimak huruf “dal” tersebut dengan logat kejawaannya menjadi nda alias menjadi penebalan bunyi wacana “dal”.

3.         Perbedaan bahasa sebab usia dan situasi.

Perbedaan bahasa komunikasi tidak hanya terpengaruh sebab budaya dan gender, akan namun karna faktor usia dan situasi, berikut ini berbagai contoh dari yg akan terjadi penetian.

a)         Perbedaan bahasa sebab umur

Contoh : seorang wanita berusia 19 tahun saat berkata dengan wanita umur 30 tahun akan lebih sopan kepada wanita yg lebih tua dengannya. Contoh pada perbincangan berikut.

Bu Sari (Umur 30)      : Kamu dari mana nia ?

Nia (umur 19)             : saya dari pasar bu, kalian mau kemana ?

Bu Sari                                    : aku mau ke rumah Bu Sumi’.

b)         Perbedaan bahasa sebab situasi

Contoh perbedaan bahasa sebab situasi.

1)         Situasi Ketika Jual Beli

Seorang pria lebih sopan dalam tawar menawar di pasar dengan memakai bahasa jawa alias bahasa Indonesia, faktor ini pria bermaksud supaya tawar menawar berlangsung dengan baik.

Pak Sasmito    : Pak, ini harganya berapa ?

Pak Sardi         : ini 50.000 pak.

Pak Sasmito    : Apa Boleh Kurang pak ? bagaimana jikalau 40 ribu?

Pak Sardi         : Maaf bapak, tidak bisa.

Dari percapakan diatas mampu diambil contoh dari bahasa sehari hari yg cendrung kasar yg bermetamorfosis lembut sebab berbedanya situasi.

2)         Situasi saat ada pertengkaran.

Kebanyakan orang-orang yg lemah lembut saat berkata mampu menjadi lebih kasar dalam membicarakan saat emosi, contoh pada perbincangan warga berikut saat ada pertengkaran di jalan raya.

 

A                     : aku tadi sudah hati, kamu yang sembarangan nyebrang.

B                     : apanya ?? kamu tu sembarangan nyetir motormu.

Dari percakapan di atas ditarik kesimpulan bahwa seorang akan lebih kasar dalam berbicara karena situasi tertentu.

1)         Situasi antara tokoh masyarakat dan warga.

Dalam percakapan tokoh masyarakat dan warga desa berbeda dengan percakapan masyarakat dengan masyarakat lainnya, seperti contoh percakapan berikut.

Warga desa                 : Saya mau konsultasi sama panjenengan Kiai.

Tokoh Masyarakat      : Iya, Monggo.

Dalam percakapan tersebut warga desa menggunakan bahasa yang lembut dan mencampur bahasa jawa halus untuk mengucapkan kata kamu atau anda.

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perbedaan bahasa komunikasi di desa Merjosari kota Malang karena tiga aspek utama yaitu :

1.         Aspek Bahasa,

2.         Aspek Budaya, dan

3.         Aspek Gender.

Tak hanya karena tiga aspek tersebut, perbedaan juga terjadi karena perbedaan umur dan situasi tertentu. Umur dan situasi membuat perbedaan yang signifikan dalam perbedaan komunikasi warga desa tersebut. Sesungguhnya perbedaan komunikasi karena tiga sapek tersebut tidak hanya terjadi di desa tersebut, namun juga terjadi berbagai daerah di Indonesia seperti di Jakarta, Jogjakarta dan lain-lain.

Saran penulis terhadap penelitian ini yaitu :

1. Penilitian ini diharapkan dilanjutkan ke penelitan yang lebih besar lagi, seperti penelitian perbedaan komunikasi se-kota, se-jawa, bahkan se-Indonesia.

2. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang perbedaan bahasa, budaya dan gender untuk menyatukan perbedaan di masyarakat.

3. Penelitian ini diharapkan mendapatkan waktu yang lebih lama untuk mendapatkan hasil penelitian yang lebih baik.

 

Posting Komentar untuk "Sosiolinguistik: Antara Gender, Budaya dan Gaya Berbahasa "