BIPA (Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing): Bagaimana Prospek Bahasa Indonesia di Negara Lain dan Bagaimana Kendalanya?
Universitas (luar Indonesia) yang mengajarkan bahasa Indonesia
- Tokyo University of Foreign Studies, Jepang.
- University ofShouthern Queensland, Australia.
- University of Kyiv,Ukraina.
- Hankuk Univeristy ofForeign Studies, Korea Selatan.
- Hong Bang University,Vietnam.
- Universitas MohammedV, Maroko.
- National Universityof Singapore (NUS)
- University of Sydney,Australia
- Australian NationalUniversity
Bagaimanakah prospek bahasa Indonesia sebagai bahasa asing di universitas-univarsitas yang telah Saudara temukan tersebut di atas?
Prospek bahasa Indonesia yang diajarkan di universitas luar negeri dapat dikatakan sebagai prospek jangka panjang. Keuntungan terbesar utama pada perkembangan bahasa dan sastra Indonesia, yang akan semakin dikenal halayak umum, semakin banyak penelitian yang akan diteliti pendidik atau pun peserta didik tentang bahasa Indonesia. Sedangkan prospek lain, bahasa Indonesia dapat menjadi wadah pengenal kebudayaan Indonesia, adat istiadat, hingga pariwisata, dengan mengenalkan hal tersebut kepada mahasiswa atau pelajar di luar negeri, akan menggugah keinginan mereka untuk secara langsung terlibat dalam bahasa Indonesia di negeri ini, tidak hanya itu mereka akan juga memiliki ketertarikan untuk mengunjungi wisata dan kebudayaan yang dikenalkan. Dari berbagai sektor tersebut, Indonesia akan terus berkembang dan menjadi negara yang akan terus maju melalui pengenalan bahasa di luar negeri.
Hambatan apa sajakah yang kemungkinan ditemui para dosen bahasa Indonesia di universitas-universitas tersebut di atas?
Ada beberapa kemungkinan yang menjadi hambatan para dosen bahasa Indonesia dalam mengajarkan bahasa Indonesia di beberapa universitas tersebut, yaitu : 1) culture shock : hal ini menjadi salah satu hambatan yang akan terjadi terhadap pengajar BIPA di luar negeri, dimana budaya-budaya yang ada di Indonesia tentu akan berbeda dengan di luar negeri, oleh karena itu diperlukan adaptasi agar dosen atau pengajar bisa menyesuaikan budaya mereka. 2) Makanan : ada banyak yang mengeluh soal makanan yang berbeda dengan di Indonesia, makanan luar negeri tentu akan sangat berbeda dengan Indonesia, hal ini akan menjadi suatu hambatan juga, dimana makanan merupakan kebutuhan pokok pengajar disana agar tetap fit dan bersemangat mengajar. 3) media visual : berbeda dengan pengajaran BIPA di dalam negeri, visualisasi secara langsung dapat diterapkan seperti langsung datang melihat budaya, wisata dan penutur asli, sedangkan di luar negeri hal tersebut sulit terealisasikan, oleh karenanya, pengajar memerlukan media-media visual tentang media visual yang berupa gambaran bagaimana bahasa, budaya, pariwisata di Indonesia, sehingga mempermudah pembelajaran BIPA. 4) bahan ajar : ada kemungkinan juga bahan ajar menjadi hambatan, walau memang guru bisa improfisasi atau mengembangkannya, namun tak bisa dipungkiri bahan ajar yang ada dapat menjadi hambatan, berkaca saja pada pendidikan umum di Indonesia yang memiliki banyak hambatan dalam pemakaian buku teks.
Bahan ajar bahasa Indonesia yang bagaimanakah yang sesuai untuk diterapkan di universitas-universitas tersebut di atas?
Bahan ajar yang bersifat digital, dengan digitalisasi materi pembelajaran semua dapat lebih ringkas dan mudah diingat oleh peserta didik. Walau tetap menggunakan buku teks sebagai acuan, media visual atau digital sangat perlu digunakan dan terus dikembangkan, karena peserta didik lebih cepat mengingat apa yang mereka lihat secara visual (baik audio dan pengelihatan) dan juga karena perkembangan teknologi yang amat pesat maka inovasi pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi sangat perlu ditingkatkan, hal yang diharapkan dengan adanya digitalisasi beberapa materi akan lebih menarik peserta didik, contoh video-video praktek berbicara, pengenalan budaya bahkan pariwisata. Bila perlu, digitalisasi tersebut dijadikan satu saluran khusus di youtube sebagai media pembelajaran, dengan play list yang disesuaikan dengan buku teks yang disesuaikan dengan jenjang pembelajaran BIPA, sehingga peserta didik bukan hanya mempelajarinya ketika di kelas, namun bisa ketika di rumah.
Apabila dalam pengajaran bahasa Indonesia di universitas-universitas (luar Indonesia) tersebut juga dikenalkan dengan budaya-budaya Indonesia?
Sangat perlu dikenalkan budaya-budaya Indonesia, karena itu juga merupakan bagian-bagian dari bahasa dan termasuk dalam kekayaan negara, budaya menjadi nilai jual yang tinggi untuk menarik pengunjung non domestik, semakin kenal dengan budaya Indonesia, maka ketertarikan tersebut akan terus meningkat. Hal yang diharapkan dengan pengenalan budaya, peserta didik semakin ingin ke Indonesia untuk mengetaui hal tersebut, dan disisi lain ini akan menjadi pelajaran bila suatu saat peserta didik dapat mengunjungi Indonesia, tidak banyak terjadi shock culture yang akan mengganggu aktivitas mereka selama di Indonesia.
Cara mengenalkan budaya-budaya Indonesia dalam pengajaran bahasa Indonesia di universitas-universitas (luar Indonesia) tersebut?
Pengenalan budaya tidak
cocok bila hanya dikenalkan dengan buku dan lisan saja. Harus bisa
divisualisasikan agar lebih mengena, terkonsep, dan lebih ringkas. Memanfaatkan
animasi gerak dapat menjadi suatu ketertarikan tersendiri, disisi lain
menggunakan visualisasi secara non animasi juga menarik, karena dalam
pengenalan budaya sangat perlu melihat aktifitas kebudayaan yang akan menjadi
ketertarikan tersendiri, sebagai contoh tari-tarian Indonesia yang
divisualisasikan dan dikenalkan kepada peserta didik, dengan
penjelasa-penjelasan bagaimana tarian tersebut, maka peserta didik akan
mendapatkan pengetahuan lebih mengenai budaya tari, dari pada hanya dikenalkan
secara lisan.
.webp)
Posting Komentar untuk "BIPA (Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing): Bagaimana Prospek Bahasa Indonesia di Negara Lain dan Bagaimana Kendalanya?"