Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Novel Berbasis Islam yang Memotivasi

source: gramedia

Memotivasi tak hanya bisa dilakukan lewat ceramah tetapi juga dapat dituangkan dalam sebuah tulisan dalam bentuk novel. Novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi ini adalah salah satu novel best seller yang merupakan novel pertama dari trilogi dengan susunan secara apik bercerita tentang dunia pendidikan khas pesantren, lengkap dengan segala pernak-pernik kehidupan para santrinya. Dengan menggambarkan suasana di pondok pesantren yang kebanyakan orang enggan untuk memasuki lingkup pesantren yang mempunyai suasana yang hening, alim, ataupun keras.

Dalam novel ini Ahmad Fuadi menceritakan bagaimana suasana pesantren modern yang ada di daerah Jawa timur. Novel Negeri 5 Menara ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca atau penikmatnya, Karakteristik tokoh-tokohnya yang begitu kuat dan khas anak pesantren serta gambaran latar yang begitu hidup, membuat kisah dalam novel ini benar-benar berada dalam dunia pesantren. Novel dengan pengalaman pribadi sang penulis yaitu Ahmad Fuadi ini terinspirasi dari pendidikan yng mencerahkan di pondok modern Gontor dengan semua tokoh utamanya terinspirasi sosok asli yang berada di sekeliling  penulis serta beberapa peran gabungan yang tak jauh dari karakter yang sebenarnya.

Novel Negeri 5 Menara ini diawali dari adanya seorang pemuda yang berasal dari Bukit Tinggi Sumatra Utara yang bernama Alif Fikri, ia adalah seorang  pemuda yang sangat menginginkan sekolah di SMA Bukit Tinggi Sumatera Barat dengan berbekal nilai ujian yang lumayan bagus, namun karena desakan kedua orang tuanya Ali Fikri memutuskan untu meneruskan pendidikannya di Pondok Modern Gontor. Pemuda yang penuh semangat dan sangat patuh kepada kedua orang tuanya ini bimbang terhadap pilihannya untuk pergi pondok pesantren pada awalnya, namun waktu yang terus berjalan membuat pemuda ini sangat antusias dan percaya dri bahwa jalannya kesuksesannya ada di pondok modern tersebut.

Novel Negeri 5 Menara, mendengar namanya saja sudah terlintas terdapat 5 menara di berbagai Negara, penulis menciptakan suatu konflik dalam novel tersebut dimana ada 5 orang santri yang diam-diam mempunyai keinginan untuk mengunjungi negara yang ada dalam benak para santri tersebut. Bayangkan saja seorang santri baru yang sudah berkeinginan untuk berkunjung ke Negara impiannya suatu saat nanti.  Satu persatu konflik telah dimunculkan oleh penulis, para pembaca dapat merasakan bagaimana rasanya berada dilingkup pesantren dengan segala ketentuan dan aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh setiap santrinya. Mulai dari bangun pagi, menghafal  ayat-ayat Al-quran, sholat malam dan sebagainya yang belum kita dapat melaksanakannya di rumah. Namun kita dapat merasakan bagaimana berjuangnya para santri untuk bisa menyelesaikan pendidikan yang bersifat ganda dalam pesantren, tak hanya pendidikan formal saja tapi diikuti dengan pendidikan berkarakter agama islam yang sangat kental dan religius.

Isi novel yang mempunyai sampul berwarna senja ini mengajarkan bagaimana pendidikan karakter berbasis islam yang diajarkan pada pesantren tersebut dapat dikembangkan dan dimanfaatkan oleh santrinya jika mereka telah lepas dari pesantren tersebut. Novel ini juga menggambarkan karakter cinta Allah swt. tentu saja menjadi hal yang mutlak di pesantren. Setiap gerak langkah para santri harus dilandaskan sebagai ibadah yang merupakan wujud kecintaan mereka kepada Allah swt. Termasuk juga dalam kegiatan menuntut ilmu yang memang menjadi tujuan para santri yang datang ke pondok modern Gontor. Novel dengan tebal 405 halaman ini berisi kekuatan ayat-ayat  Al-Quran yang membuat para santri atau pembaca menyakini apapun yang kita inginkan dan kita berusaha untuk mendapatnya  pasti akan terkabul dengan iktiar dan selalu berdoa kepada Allah swt. Pada halaman 40 dalam novel tersebut saya menemukan sepenggal kalimat ajaib yang pasti akan membuat saya lebih yakin tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini yaitu “man jadda wa jadda”.

Kelebihan novel ini adalah mengubah pola pikir kita tentang kehidupan pondok yang hanya belajar agama saja. Karena dalam novel ini selain belajar ilmu agama, ternyata juga belajar ilmu umum. Pelajaran yang dapat dipetik adalah jangan pernah meremehkan sebuah impian setinggi apapun itu, karena Allah Maha mendengar doa dari umatNya yang senantiasa memohon kepadaNya.

ditulis oleh: Niken Wulandari (Guru MAN Gondanglegi)


Posting Komentar untuk " Novel Berbasis Islam yang Memotivasi"